Entri Populer

Senin, 23 Mei 2011

Tentang Nurimah

Di ruang tahanan Pengadilan Negeri Semarang, Nurimah sibuk menyalami kawan-kawannya. Seorang perempuan berwajah pucat tergopoh-gopoh mendatangi Nurimah dan menyerahkan kantung plastik besar warna putih.

“Dimakan dulu nasinya, Nur,” kata perempuan itu. Nurimah diam. Kantung tersebut diletakkan di bangku. Nurimah melanjutkan obrolan dengan kawan-kawan yang terus datang memberikan dukungan.
Perempuan pucat itu Surini. Kakak kandung Nurimah. Surini selalu datang setiap sidang. Membawa makanan kegemaran adiknya. Hari ini Surini membawa nasi urap dan tempe goreng.

”Dia adik bungsu saya. Nggak tega rasanya melihat dia dipenjara. Mudah-mudahan hari ini bebas. Ibu di kampung sakit mikirin Nur,” kata Surini sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Perempuan lain berambut pendek menyeruak di antara kerumunan. Seperti menahan tangis, perempuan itu berkali-kali meminta maaf. Dia Suryani. Kawan sepabrik Nurimah yang melaporkan kasus pemukulan 6 tahun lalu, pangkal perkara ini.

“Bulan Juni lalu saya dipanggil perusahaan yang menanyakan kasus perkelahian kami. Saya ditanya perasaan saya ketika dipukul dan diminta menulisnya. Lalu Pak Ketut (pengacara PT San Yu) mengantar saya melaporkan masalah ini ke polisi. Beberapa bulan kemudian saya mendengar Mbak Nurimah dipenjara. Saya menyesal. Saya seperti diadu oleh perusahaan,” kata Suryani.

Ketika bersaksi dalam sidang, Suryani mengakui ditekan perusahaan agar melaporkan kasus ini kepada polisi. Suryani membuat surat jaminan penangguhan penahanan untuk Nurimah.
“Harapan saya, Mbak Nurimah segera bebas. Saya merasa sangat bersalah,” ujarnya.
Dalam sidang pembelaan 23 Januari lalu  Nurimah membacakan pengakuan Suryani. Dalam surat satu halaman itu Suryani mengaku dipaksa perusahaan untuk melaporkan kasus perkelahian dengan Nurimah
.
Surat Pernyataan
Dengan ini saya buat pengakuan tertulis untuk disampekan di muka Persidangan, terkait dengan penganiayaan yang dilakukan oleh mbak Nurimah kepada saya 4 tahun lalu.
Saya membuat laporan kepada polisi bukan atas keinginan hati nurani saya akan tetapi atas dukungan dan bantuan pihak perusahaan untuk melaporkan hal tersebut dengan alasan agar tidak terjadi lagi peristiwa ini di dalam lingkungan perusahaan, pertikean antar sama-sama kariawan seperti yang di alami oleh saya dan Mbak Nurimah.
Maka atas dukungan dan permintaan perusahaan, untuk melaporkan hal ini coba saya ikuti. Dengan alasan saya tidak ingin dan takut kehilangan pekerjaan untuk kebutuhan saya sendiri dan keluarga.
Dan pada saat kejadian 4 tahun yang lalu saya sudah didamekan oleh pimpinan juga rekan kerja di pabrek dan dibikinkan surat di tandatangani bersama dan saya juga dipindah atau dipisah kerja sama Mbak Nurimah.
Terkait dengan hal ini saya berniat untuk minta maaf kepada Mbak Nurimah atas kekilafan saya melaporkan Mbak Nurimah dan saya berniat untuk mencabut tuntutan itu dan saya menginginkan Mbak Nurimah segera dibebaskan karena dengan kejadian ini saya merasa tidak nyaman juga tidak tenang meskipun saya telah dikasih fasilitas untuk tidur di mes dengan saya menulis minta ijin untuk Direktur Perusahaan Sanju atas perintah personalia dan hanya untuk ijin tiggal sementara di mes.
Atas kekeliruan saya ini saya mohon kepada bapak hakim agar perkara ini bisa segera damei dan selesai. Dan saya mohon kepada Mbak Nurimah bersedia memaafkan saya dan dikemudian hari tidak ada tuntutan ataupun saling dendam.
Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari pihak manapun.
                                                                                                                                           Semarang, 03 Januari 2011
                                                                                                                                                          Suryani

Buruh Dibungkam

Markus Suryoutomo, pengacara Nurimah, menilai kasus ini terkait kegiatan Nurimah sebagai Ketua Serikat Pekerja PT San Yu Frame Moulding Industries. Nurimah pernah memimpin mogok menuntut perusahaan membayar tunggakan gaji buruh. 

Sebelum diseret ke pengadilan, Nurimah mengaku sering diintimidasi. Nurimah pernah dipindah ke bagian kerja yang lebih berat.

”Belum lama menjadi ketua, saya langsung dipindah ke bagian pembahanan. Bagian ini bukan untuk perempuan. Karena yang dikerjakan adalah memindah dan menyortir kayu seberat 15 kilogram dengan panjang 4 sampai 5 meter. Tapi itu tetap saya kerjakan. Dan saya tetap berserikat. Mungkin karena itu perusahaan ingin menyingkirkan saya,” kata Nurimah.

Menurut Yanti, mantan Ketua Serikat Pekerja PT San Yu, manajemen pabrik biasa “membuang” pekerja yang kritis dan aktif di serikat buruh.

”Tiga tahun saya dimutasi ke bagian pembahanan. Kerjanya berat tapi gajinya tidak lebih dari UMK. Sehari tidak masuk kerja, langsung dapat pinalti tidak boleh lembur selama sebulan,” ujar Yanti.

Tidak tahan, Yanti keluar dari PT San Yu dan pulang ke Temanggung. ”Beruntung saya tidak dijerat hukum seperti Nurimah,” katanya.

Yanti rela menempuh waktu 3 jam berkendaraan dari Temanggung untuk mendukung Nurimah di persidangan.

”Persoalan Nurimah persoalan kami juga. Jika kita tidak memberi dukungan, perusahaan akan memberlakukan hal yang sama pada buruh lain yang berserikat,” kata Dian, Sekretaris Federasi Serikat Pekerja Indonesia.

Dukungan dari banyak kawan membesarkan hati Nurimah. ”Saya tidak mengira dukungan akan seperti ini. Saya semakin mantap untuk tetap berserikat jika saya bebas,” ujar Nurimah yang mengaku berat badanya turun selama dipenjara.

Kriminalisasi Buruh
Siasat jahat manajemen PT San Yu memenjarakan Nurimah terlihat pada beberapa kali sidang. Selain pengakuan Suryani, kejanggalan juga muncul pada rekam medis yang dijadikan bukti pemukulan.
Saksi ahli dr Gatot Soeharto mengatakan, bukti resume medis yang dikeluarkan Rumah Sakit Umum Tugu tidak memenuhi standar. Menurut dokter spesialis forensik RSUP dr Kariadi ini, terjadi kerancuan pembuatan resume medis dengan visum et repertum.

“Ini kop (suratnya) resume medis, tapi format tulisannya visum. Tapi kalau visum, ini tidak ada kesimpulan. Ahli medis pembuat resume tidak mengerti standar penulisan resume medis. Ini rumah sakitnya rodo oon (agak bodoh). Kalau di Kariadi (RSUP dr Kariadi), tidak seperti ini,” kata dr Gatot Soeharto.

Sidang Nurimah yang selalu molor dari jadwal tidak menyurutkan semangat mereka yang memberi dukungan. Pada sidang pembacaan tuntutan, ratusan orang mengantar Nurimah ke ruang sidang.
Hakim belum datang ketika ratusan buruh itu meneriakkan dukungan untuk Nurimah. Mengenakan kemeja putih dan celana panjang warna hitam, Nurimah tampak tenang. Beberapa kali Nurimah menengok kebelakang dan tersenyum ke arah rekan-rekan buruh. Suryani gelisah, duduk di barisan kedua bangku pengunjung sidang.

Buruh yang tidak kebagian tempat duduk berdiri di luar ruangan dan mengintip dari jendela. Suasana hening ketika hakim memasuki ruang pengadilan dan jaksa mulai membacakan tuntutan.
Jaksa menuntut Nurimah 2,5 bulan penjara. Hari itu hakim Pengadilan Negeri Semarang mengabulkan penangguhan penahanan.

“Menimbang banyaknya orang yang memberi jaminan, termasuk saksi korban Saudari Suryani, kami memutuskan untuk mengabulkan penangguhan penahanan bagi Saudari Nurimah mulai hari ini,” kata Hakim Ketua Komari yang disambut sorak para buruh, termasuk Suryani.

Surini, kakak Nurimah, langsung mengambil telepon genggam. Kabar gembira tersebut disebar ke kampung halamannya. Nama Nurimah dielu-elukan bak pahlawan ketika petugas menggiringnya ke ruang tahanan. Suryani berusaha memeluk Nurimah meski terhalang jeruji besi.

Semua lega. Untuk sementara Nurimah bebas dan dapat kembali bekerja. Menurut pengacara PT San Yu, I Ketut Darma Susila, kasus Nurimah tidak terkait perusahaan. Suryani diminta mengklarifikasi tudingan perusahaan memaksanya melaporkan Nurimah ke polisi.

”Keterangan Suryani dalam sidang merugikan perusahaan. Kami memberi waktu untuk Suryani melakukan klarifikasi. Jika tidak kami akan melaporkannya, sebagai pencemaran nama baik,” kata Ketut
.
Namun, Ketut tidak membantah dia yang mengantar Suryani melaporkan Nurimah ke polisi. ”Mengantar itu persoalan berbeda. Ketika itu Suryani datang pada kami dan meminta masukan atas masalahnya. Kami membantunya. Itu saja,” ujarnya.

Indonesia meratifikasi konvensi ILO Nomor 87/1948 tentang kebebasan berserikat bagi buruh, 9 Juni 1998. Konvensi ini menjamin buruh bebas dari intimidasi dan diskriminasi karena aktif berserikat. Namun, konvensi ini hanya macan kertas. Implementasi di pabrik masih jauh dari harapan.

Berdasarkan penelitian Yayasan Wahyu Sosial Semarang, lebih dari 5 buruh di Jawa Tengah dipecat selama tahun 2010 karena ikut serikat buruh. Modusnya, mencari-cari kesalahan agar buruh dipecat.
Koordinator Trade Union Rights Centre, Dela Feby Situmorang, mengatakan pasal karet ”masih laku” digunakan untuk menjerat aktivis serikat buruh.

”Di Jakarta, dari sepuluh kasus sengketa ketenagakerjaan, delapan buruh dikriminalisasi. Mereka dipaksa mundur tanpa pesangon dan kasusnya berhenti. Ini upaya menghentikan serikat buruh,” kata Dela
Beberapa pekan setelah tuntutan, Nurimah menerima vonis dua setengah bulan penjara sama persis dengan hukuman yang telah dijalani. Nurimah berniat naik banding. Sayangnya Suryani terancam dipecat sehingga Nurimahpun bimbang hati melaksanakan niatnya.

“Saat ini Suryani dimutasi. Seperti halnya buruh lain dia dibuang ditempat yang tidak layak untuk perempuan. Sementara saya konsentrasi membatu Suryani dulu,” ujar Nurimah ketika mengantar Suryani menuju Lembaga Bantuan Hukum Semarang untuk meminta pendampingan.

Purmini

Khawatir masa depan cucunya tidak terjamin, seorang nenek yang merupakan ibu dari Purmini mantan BMI yang mengalami nasib buruk mendatangi gedung DPRD Jateng. Didampingi kerabat, perangkat desa dan tim advokasi nenek bernama Sariyem itu meminta DPRD Jateng membantu mereka mendapat uang gaji Purmini yang selama lebih dari duatahun bekerja di Kuwait tidak dibayarkan.

Tiga kali Purmini menjadi BMI, Tiga negara sudah dikunjungi dan nasib tragis berakhir di Kuwait, di negara tersebut Purmini dijanjikan mendapatkan gaji sekitar dua juta sebulan, namun hingga dia kembali gaji itu tak pernah diterima. Perlakukan buruk justru diterima hingga mengakibatkan Purmini pulang dalam kondisi sakit.

“Awal Januari lalu Purmini pulang dalam kondisi sakit dan langsung dibawa ke RS Polri disana dikatakan Purmini depresi dan kena paru. Badannya kurus sekali. Padahal ketika berangkat dia gemuk dan sehat,” terang Sariyem (Senin 23/5)

14 hari dirawat di RS Polri kondisi Purmini tidak juga membaik. Oleh petugas Kementrian Tenaga Keja dia diantar sampai ke Cirebon selanjutnya Purmini harus plang sendiri menggunakan angkutan umum.

“Itu juga yang kita pertanyakan kenapa petugas hanya mengantar hingga Cirebon. Sehingga kondisi Purmini semakin parah,” ujar Aris Septiyono kuasa hukum keluarga.

Purmini sempat dirawat di RSUD Soedjati Soemodiardjo Grobogan namun hanya 10 hari, akhirnya Purmini meninggal.

“Sebelum meninggal Purmini membuat pengakuan yang kami rekam dalam kaset dimana dia mengalami penyiksaan dan perkosaan yang menyebabkan dirinya menderita. Namun itu tidak menjadi dasar tuntutan kami. Kami hanya meminta hak almarhumah Purmini untuk masa depan anaknya yang telah yatim piatu,” tambah Aris.

Pihak keluarga pernah mengadu ke Disnaker Grobogan, disana mereka dipertemukan dengan petugas PT Bidar Timur yang memberangkatkan Purmini. Namun sayang PT Bidar Timur hanya berjani untuk membantu menyelesaikan masalah ini dengan menagih ke majikan Purmini di Kuwait.

“Hingga kini PJTKI yang memberangkatkan Purinem  tidak membantu apun. Bahkan Disnaker Grobogan juga menegaska jika tidak bisa berbuat banyak karena keberangkatan Purinem langsung ke Jakarta tanpa ada laporan ke Disnaker.

Memang, Purmini berangkat melalui PJTK yang berkantor pusat di  JL.Budi No.20 Cawang Dewi Sartika Jakarta Timur, namun dia mendaftar melalui cabangnya di Demak.

“Tidak ada sosialisasi apakah dia harus melapor ke Disnaker atau tidak bahkan surat keterangan untuk pergi ke Luar negeri dari desa saja tidak diminta sehingga kami sebagai perangkat desa juga tidak pernah tahu keberangkatan Purmini,” kata Pujo kepala dusun Krajan Desa Mangunrejo Grobogan.

Purmini anak kedua dari tiga bersaudara yang ditinggal mati ayahnya sejak dia berusia 8 tahun. Keadaan ekonomi yang sulit mengharuskan dia hijrah menjadi BMI. Pulang untuk menikah Purmini harus kembali menjadi BMI karena suaminya meninggal.

Purmini meninggal dunia dengan meninggalkan satu anak berusia 5 tahun yang diberi nama Murni Cahaya. Kemana-mana Murni membawa foto ibunya dan jika malam sering menanyakan ibunya kepada Sariyem, sang nenek. “Gak tahu nanti. Tahun ini mudah-mudahan Murni bisa sekolah. Tapi kalau mahal, mungkin ditunda dulu,” kata Sariyem saat ditanya masa depan anak Purmini. Sariyem hanya menggantungkan hidup dengan berjualan lontong sayur.

Minggu, 22 Mei 2011

Harap Dari Merapi

Tebing itu telah meranggas, amuk merapi telah menghancurkan pohon dan meluluhlantakkan  semua yang ada di Cangkringan Jogjakarta. Masih terasa, meski Merapi telah berhenti menyemburkan asap dan api lebih dari enam bulan lalu.

Dua perempuan yang tidak bisa dikatakan muda masih berada disana. Hampir dua jam tidak ada pembeli yang melirik dagangannya. Permen, air mineral, tisu dan beberapa biskuit dalam keranjang menjadi modalnya mengais kembali mimpinya.

“Rumah saya sudah hancur. Saya numpang disaudara. Semua anak tinggal di kota, malu numpang mereka. Hidup mereka  juga tak kalah susah dengan saya,jadi saya berjualan untuk mengumpulkan uang agar bisa membangun kembali rumah kami,” tutur perempuan itu sambil membetulkan rambut putihnya yang tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya.

Mengumpulkan uang untuk membangun rumah, hmm sebuah cita-cita yang mulia. Tapi butuh berapa puluh tahun untuk mengumpulkannya. Dagangannya juga tidak seberapa, apalagi pembelinya..hanya ada dua tiga orang yang melintas dijalan ini, jalan raya cangkringan yang menuju kampung mbah Marijan. Dari mereka yang melintaspun tidak semua berhenti dan membeli dagangannya.

“Keuntungannya nggak pasti kok mbak…paling ya lima ribu sampai sepuluh ribu tapi Alhamdulillah harus disyukuri masih bisa sehat dan bisa cari duit sendiri hingga saat ini.”

Aku malu, perempuan itu masih bisa bersyukur dalam keterbatasan materi.Keyakinan untuk bisa meraih mimpi seakan menjadi bukti jika amuk Merapi tidak menghancurkan imannya untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan-Nya.

School of Life

Anak kecil (2 th ) berwajah murung terlihat menunggui seorang perempuan muda yang tengah sibuk menjahit baju pesta, disebuah teras yang tertutup rapat. Sementara seorang anak laki-laki berusia sekitar limabelas tahun dengan kaki yang diseret mencoba berjalan menuju pagar yang juga tertutup rapat. Dibalik lubang pagar yang berukuran 10 cm Agustinus seorang remaja berusia lima belas tahun , kegirangan melihat kereta kelinci yang melintas. Meskipun hanya gumaman yang terdengar namun dalam senyum lebarnya terlihat dia sangat puas.

”Agustinus dulu sama sekali tidak bisa jalan, dia juga  bisu, setelah lebih dari tiga tahun berada disini dia mulai bisa berjalan meski masih diseret,” terang Esther perempuan yang sibuk menjahit itu.

Esther Eka  adalah seorang pendamping di rumah  penampungan ’School Of Life’ .Dari 26 tahun usianya saat ini, 4 tahun waktunya dihabiskan di School Of Life. 

”Saya terpanggil untuk bergabung, setelah beberapa kali bertemu cik Priska pendiri penampungan ini. Beruntung keluarga saya mendukung meskipun dengan bergabung disini saya jadi jarang pulang,” tutur dua bersaudara yang tinggal dipinggiran kota Semarang.

Di bangunan seluas sekitar 300 meter persegi itu, lebih 80 orang dari segala usia dengan segala keterbatasan tinggal di penampungan yang berdiri sejak tahun 2005 sebagian besar dari mereka adalah yang dibuang keluarganya  karena keterbatasan yang dialami. 

Dari luar memang tak terlihat sesuatu yang istimewa dari rumah bercat putih yang selalu tertutup rapat di Jl. Bintoro Raya no.13 Semarang itu. Pagarnya selalu terkunci dan tertutup dengan fiber. Satu-satunya hiasan hanya plang besar bertuliskan The School Of Life yang terpasang ditembok depan.

Disitu puluhan orang cacat baik fisik maupun mental tinggal, seorang wanita buta bernama Priskilla Smith Jully yang akrab disapa Priska mencurahkan segenap cinta, kasih sayang serta perhatiannya pada puluhan orang yang telah terbuang dari keluarga mereka.

”Hanya sedikit yang memang dititipkan orang tuanya kesini, tapi prioritas School Of Life adalah menampung mereka yang memang dibuang keluarganya, termasuk Benyamin ini,” Esther menunjuk anak kecil berwajah murung didepannya. Benyamin menunduk dan kembali asyik dalam lamunannya. Menurut Esther, Benyamin ditinggal  kabur ibunya di rumah seorang bidan yang tidak jauh dari penampungan setelah dua hari dilahirkan.
Saat ini Benyamin  hanya mampu memanggil mami, untuk Priskilla  yang dianggap orang tuanya.

”Sebentar lagi mami pulang, Nyamin mandi dulu ya?” Esther menggendong Benyamin. Didalam rumah sebagian penghuni dengan rambut yang basah duduk dan bercakap-cakap. Didapur seorang anak tuna netra tampak sibuk mengaduk nasi untuk makan malam mereka. Beberapa penghuni yang yang dianggap mampu, setiap hari mendapat giliran memasak dan menyajikannya. Hari ini giliran Maria (30) yang menyiapkan nasi untuk semua penghuni.

Suasana nampak gaduh ketika salah satu penghuni seorang perempuan   berusia 25 tahun dengan mengenakan kaos merah dan celana panjang hitam  mulai berteriak meminta seluruh penghuni masuk diruang persembayangan. Dia adalah salah satu penghuni yang secara fisik tidak mengalami kecacatan.

Sudah menjadi kebiasaan disana, menjelang petang semua harus berkumpul untuk berdoa. Ruang yang dilapisi peredam suara berwarna biru itu memang menjadi tempat mereka melakukan doa bersama sebelum makan malam dimulai.

Belum semua beranjak menuju ruang persembahyangan ketika seorang perempuan tuna netra muncul dari balik pagar. Kedatangannya disambut teriakan histeris penghuni rumah. Mereka beramai-ramai mencium tangan perempuan yang tak lain adalah Priskilla Smith Jully.

”Mami...” Benyamin muncul dan langsung memeluk Priska. Priska meraih tangan Benyamin dan meletakkannya dipipi. 

”Ayo sayang pegang pipi mami..Nyamin sudah mandi?” Benyamin tidak menjawab, hanya memandang Priska.
bangkit
Bagi Priska semua penghuni School Of Life adalah keluarga yang dari tahun ke tahun semakin bertambah.
Masa lalunya yang kelam membuat Priska yang mengalami cacat sejak lahir memiliki keberanian membuat penampungan bagi kaum diffabel  yang terbuang.

”Sejak dalam kandungan saya tidak diinginkan. Dan entah apa yang dilakukan mami sehingga ketika lahir saya menjadi buta. Tidak cukup sampai disitu, karena cacat yang saya miliki, mami menganggap kehadiran saya tidak berguna”, kenang putri dari Bujung dan Tjien Ngo itu. 

Priska yang lahir 8 Mei 1978 ini berasal dari Jambi. Dia adalah anak kedua dari lima bersaudara.
Priska mengakui tekanan yang dialami kerena penolakan orang tuanya dan kecacatannya membuat dia sempat frustasi. Diusia remaja beberapa kali dia mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi di pergelangan tangan kirinya. Beruntung nyawanya selalu bisa terselamatkan.

”Ditengah keputus asaan yang memuncak di sekitar bulan Oktober 1992   seorang kawan mengajak ke gereja untuk berdoa, disitu saya sadar kasih Tuhan selalu ada untuk umat-Nya,” ujar ibu dua putra ini.

Sejak saat  itu  Priska menjadi aktivis gereja di Jambi. Kepercayaan dirinya meningkat sehingga di tahun 2004 Priska memutuskan untuk merantau ke Jawa tepatnya di Ungaran Kabupaten Semarang Jawa Tengah.

 ”Saya mengikuti pendidikan karakter di The School Acts. Disitu saya bertemu dengan Tommy Barnett seorang warga Amerika yang memiliki penampungan untuk orang terbuang bernama Dream Center di Amerika. Entahlah, begitu mendengar kisah tentang penampungan itu saya langsung bertekad untuk membuat penampungan yang sama di Semarang ini. Keinginan itu seperti mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata karena saya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa,” papar Priska.

Diusir
Genap setahun Priska berangan-angan, seorang teman dari Jambi yang lumpuh mengabarkan dirinya  telah sebatang kara karena ibu yang selama ini menghidupinya meninggal. 

Berbekal tabungan yang ada Priska yang kala itu sudah menjadi penyiar di radio rohani Rhema menjemputnya dan mulai menampung perempuan bernama Rhemmy. Priska juga mengajak seorang teman yang memiliki kekurangan pada pendengarannya untuk tinggal bersama. Meski sudah membayar uang kos lebih banyak dari teman kos yang lain, pemilik rumah  di kawasan Sampangan ini tetap tidak mengijinkan Priska menampung temannya.

”Ibu kos mengatakan mereka orang-orang aneh dan meminta saya mencari tempat kos baru. Sedih rasanya. Namun karena niat baik, oleh Gereja Jemaat Kristen kami mendapat pinjaman sebuah rumah dikawasan permata hijau Semarang. Tidak lama memang hanya dua tahun tapi itu bisa mengulur waktu untuk saya mencari uang dan mendapatkan tempat baru untuk keluarga ’aneh’ kami yang jumlahnya meningkat menjadi delapan orang,” terangnya.

Menurut Priska ikatan batinlah yang mempertemukan dia dengan para asuhannya. Dari yang dijemput atas informasi teman atau mereka yang datang sendiri kepadanya semua ditampung, dengan catatan mereka memiliki gangguan fisik maupun mental dan terbuang.

Bak seorang ibu, Priska berjuang sendirian menghidupi anak asuhnya, selain menjadi penyiar, dan penyanyi, Priskapun rela bekerja sebagai pengupas bawang disebuah restoran cina di kawasan Tanah Mas Semarang.
”Saya senang menjalani ini semua. Hingga tak terasa setelah beberapa kali kami pindah Dari Muktiharjo, Permata Hijau hingga Selomas kami menemukan lokasi yang paling nyaman yakni di Bintoro Raya 13 ini. Disini keluarga kami semakin banyak, dari lintas usia, lintas agama, lintas suku hingga lintas karakter.”
Keterbatasan ruangan menyebabkan penampungan ini hanya memiliki dua kamar, satu untuk perempuan dan satu lagi untuk laki-laki.  
”Susahnya jika salah satu sakit dipastikan yang lain juga akan tertular. Misalnya flu atau diare yang gampang menular. Saya sering membawa mereka secara rombongan untuk berobat dengan mobil sewaan,” urai Priska yang menambahkan status rumah ini juga masih kontrak.
Disinggung masalah tempat penampungan yang terkesan mengisolir diri dari pergaulan masyarakat kampung, Esther yang mendampingi Priska bercerita bahwa apapun bisa terjadi secara tiba-tiba. Teriakan, tangisan hingga nyanyian yang tidak habis-habis bisa saja terdengar, itulah yang menyebabkan seluruh penampungan dibuat tinggi dan ditutup dengan fiber.
”Peredam suara seperti dalam studio siaran kita pasang diseluruh ruangan. Kami tidak ingin kegaduhan disini mengganggu warga sekitar. Apalagi doa kami diruang persembahyangan bisa sangat keras,” tutur Esther.

Selain doa bersama dengan cara menyanyikan pujian terhadap Tuhan, School Of Life juga mengenalkan huruf braille kepada mereka yang tuna netra. Khusus untuk huruf braille Priska sendiri yang mengajarkannya. Selain itu tiga bahasa juga dikenalkan yakni bahasa Inggris, Mandarin dan Jepang.

”Suami cik Priska yakni Koh Fendi yang menjadi mentor untuk bahasa,” terang Esther. Priska dan Fandi Kusuma menikah Desember 2006 lalu. Dengan kondisi materi yang berbeda karena Fandi  yang bekerja sebagai direktur sebuah industri yang juga anak dari keluarga berkecukupan membuat Priska sempat menolak Fandi. Apalagi awal mulanya kedua orang tua Fandi tidak setuju dengan hubungan mereka.

”Karena bimbingan-Nyalah semua menjadi mudah. Tidak lama orang tua merestui dan kami menikah. Hubungan saya dengan orang tua kandung juga semakin baik.” Mereka berdua bahu membahu menghidupi School Of Life dan kedua anak mereka Dika Aldiro (3 th) dan Holi Covenant (6 bulan).

Kesibukan Priska membanting tulang untuk anak asuhnya tidak membuat  keluarga kecilnya protes bahkan Fendi yang bertugas menjadi mentor bahasa akhirnya memutuskan keluar dari kerjaannya sebagai direktur dan total membantu priska.

”Banyak orang menyayangkan dan menertawakan keputusan ini. Tapi tampaknya koh Fendy sudah mendapat panggilan untuk mengabdi. Masalah penghasilan yang berkurang saya yakin jika Tuhan sudah memulai Dia akan memimpin hingga selesai,” kata Priska

Dengan bantuan Fandi yang cukup berpengalaman dalam mengatur perusahaan membuat Priska menjadi lebih mudah dalam mendapatkan penghasilan untuk menghidupi School Of Life. Event organizer yang dibentuk Fandi untuk membantu menghidupi School Of Life tak pernah sepi dari order. Sekali order EO yang bernama Life Entertaiment ini mematok harga antara 1 hingga 2 juta setiap kali mereka mengisi acara hajatan.

Jual Kripik
Dengan 80 orang yang saat ini ditampung, setiap bulan sedikitnya Priska harus mampu mendapatkan uang lebih dari Rp.50 juta. Siaran yang menyita waktu dengan honor yang kurang untuk menghidupi puluhan orang itu membuat Priska menghentikan cita-citanya sebagai penyiar. 

Priska memilih menjual berbagai makanan mulai dari keripik pisang hingga balado teri dari pintu ke pintu. Untuk sementara berbagai keripik dan balado diambil dari temannya yang pembuat keripik. Priska hanya mendapat keuntungan dari penjualan saja. 

”Dalam sehari keuntungan yang didapat antara lima ratus ribu hingga satu juta. Karena bukan hanya keripik. Saya menjual apapun yang bisa saya jual. Namun pernah berhari-hari keuntungan saya tak lebih dari Rp.50 ribu. Sehingga kalau dihitung pemasukan sebulan sangat kurang. Belum ada donatur tetap ditempat kami. Dan kami juga tidak pernah mengirimkan proposal bantuan kemanapun meski banyak yang menyarankan. Entahlah tidak sampai hati rasanya jika harus mengatasnamakan mereka untuk mengemis mencari uang. Selama tangan ini mampu saya akan terus berusaha untuk menutup semua kebutuhan, Tapi banyak juga orang yang bermurah hati memberi bantuan” ujarnya.

Priska mencontohkan pembayaran  rumah yang ditempati saat ini berasal dari sesorang yang tidak dikenalnya.
Selain itu suaranya yang merdu sebagai penyanyi masih laku di berbagai hajatan yang menambah pundi-pundi uang untuk menghidupi asuhannya.
Berbagi untuk Memulihkan
Hari sudah menjelang sore. Saat seluruh keluarga School of Life berebutan memasuki ruang sembahyang. Ruangan seluas 6 x 5 meter itu mendadak gaduh. Jangan membayangkan sembahyang mereka berlangsung hening. Justru dentuman drum, lolongan gitar listrik, yang dirangkai keyboard, adalah sembahyangnya kaum diffabel ini.

”Ra...ra ... ra ...ra...,” seorang mentor yang membimbing mereka mengalunkan lagunya.
”Yare....yare...,” dan peserta pun menyambutnya seakan mengamini doa itu.

Usai berdoa, keluarga besar ini berkumpul di ruang serbaguna yang luasnya 5 x 10 m. Di dinding yang dipenuhi slogan-slogan kemandirian ini, mereka hendak makan malam.

”Yang bertugas membagi makanan siapa Si?” seorang perempuan yang matanya rabun dan tidak bisa melihat jelas bertanya pada kawannya.

”Kakkk....ka....kayakk....kayaknya.... om...om....om......om Tan,” jawab Getsy, gadis Gorontalo berusia 28 tahun yang menderita autis sambil mengaduk teh hangat untuk disajikan ke seluruh anggota keluarga.
Getsy lalu mendekati om Tan.

”Om....tetet....tett...telurku nanti....ssses...separuh aja ya.....Yang sess....separuh buat...mamm....mama priska,” kataGetsy.

Om Tan yang pemarah dan pengomel hanya memandang tajam Getsy. Menurut Esther, Om Tan adalah seorang pengusaha yang jatuh bangkrut setelah ditipu rekannya. Ia menjadi pemurung, pemarah, dan dimanapun selalu mengomel.

”Dia dianggap gila. Padahal hanya depresi saja. Nyatanya setelah setahun menjadi keluarga kami, ia mulai bisa mengendalikan diri,” kata Esther.

Makan malam keluarga hari itu sangat sederhana. Sepiring nasi dengan lauk mie goreng dan telur dadar saja. Namun dibalik kesederhanaan itu, ada semangat memulihkan anggota keluarga yang lain. Pesan Getsy kepada Om Tan untuk sekedar berbagi telur dadar menyiratkan harapan keluarga ’aneh’ itu.

”Kami meyakini restored to restore. Dipulihkan untuk memulihkan. Nyatanya banyak mereka yang menjadi mandiri usai menjalani sebagai keluarga disini,” kata Priska yang mencontohkan seorang alumni School Of Life yang memiliki ganngguan mental berhasil menjadi pedagang setelah keluar dan diberi modal usaha.

”Mereka yang akan lulus, kita tanya apa yang diinginkan, sebisa mungkin kami mencarikan jalan keluar agar mereka mampu mandiri,” ujar Priska menutup obrolan. 

Hari sudah gelap. Seluruh anggota keluarga bersiap belajar dan tidur. Karena malamnya mereka masih punya acara kebaktian yang biasa disebut konser.

Lalu lalang orang dan anak-anak di jalan Bintoro Raya Semarang masih ramai. Namun di dalam bangunan bernomor 13, kehidupan seakan tengah mengambil jeda. 






Rawapening Tujuh Keliling


Huhu menantang matahari. Lengan dan tengkuknya berkilat kilat peluh. 37 derajat celcius siang itu.
Meski panas, lelaki berusia 45 tahun itu tetap sibuk menabur pakan ikan dalam karamba. Ratusan ikan nila menyambutnya rakus. Kurang dari sepuluh menit pakan ikan ludes.

Di bangku panjang diluar gubuk terapung, Huhu istirahat. Berteman segelas besar teh tubruk dan angin sepoi-sepoi. “Karamba ini milik kakak ipar saya. Saya yang mengelola,” kata Huhu memulai obrolan
.
Kakak iparnya, Raden Panji adalah salah satu penggerak usaha ternak ikan dalam karamba di Rawapening. Usahanya dimulai tahun 1987 dengan modal dua petak karamba. Huhu ikut memancang bambu petak karamba.

Raden Panji nyaris bangkrut ketika karambanya hanyut disapu badai besar tahun 90-an. Modal usaha yang didapat dari menguras tabungan, raib begitu saja. Huhu frustasi dan memilih hijrah ke Surabaya. Raden Panji kembali membangun karamba yang lebih kokoh.

“Lebih dari dua ratus drum berisi air diikat untuk membuat berat rumah apung Pak Panji. Biaya lebih banyak. Tapi lebih aman dan nyaman,” ujar Huhu.

Belakangan usaha karamba Raden Panji maju pesat. Cuaca dan air di Rawapening cocok untuk memelihara ikan air tawar. Warga di sekitar danau yang saat itu kebanyakan buruh tani dan nelayan tradisional, latah ikut membangun karamba.

Danau seluas 2.670 hektare tersebut pelan-pelan sesak dipadati ratusan karamba milik warga.
Macam-macam ikan konsumsi seperti nila, mujair, dan tawes diternak di Rawapening. Warga juga beternak ikan hias macam black ghost, man fish, dan red devils. Anataomi red devils mirip ikan Lou Han yang dipercaya bisa mendongkrak hoki.
Kala itu uang Rp 10 juta cukup untuk membangun empat petak karamba ukuran 7X7 meter. Warga boleh memilih tempat dimana pun di danau seluas padang tersebut. Tak ada yang menyadari, pembangunan karamba tanpa aturan akan mengancam usaha ternak ikan dikemudian hari.
Sisa makanan ikan menyuburkan eceng gondok. Koloni eceng gondok mengikat gambut dan membentuk pulau-pulau terapung.

Gerombolan eceng gondok yang terbawa angin merusak jaring dan menghacurkan karamba. Ketika malam, aroma busuk akar eceng gondok menguar dan menyebabkan ikan-ikan mati kehabisan oksigen.

”Ribuan ikan dalam karamba mati karena bau eceng gondok tersebut. Hanya sedikit warga yang bertahan tetap menjadi nelayan ataupun membudidayakan ikan dalam karamba,” kata Huhu.

Raden Panji termasuk pengusaha karamba yang minggir karena eceng. Gondok menghindari bau eceng, Raden Panji memboyong keluarganya ke Solo. ”Saya yang mendapat mandat mengurus karambanya di sini bersama Pak lurah,” ujar Huhu.

Tri Retnaningsih Soeprobowati, dosen Biologi Universitas Diponegoro Semarang mengatakan, kandungan nutrien yang kaya fosfor dan nitrogen menyuburkan gulma air di Rawapening. Nutrien tersebut berasal dari sisa pakan ikan, pupuk perkebunan disekitar danau dan limbah rumah tangga.

”Hampir seluruh danau mengandung fosfor dan nitrogen sehingga populasi enceng gondok tak terkendali. Ini juga menyebabkan pendangkalan,” ujar Tri Retnaningsih.

Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan daya tampung air Rawapening berkurang. Eceng gondok saat ini menutup 82 persen permukaan danau.
Daya tampung Rawapening menyusut dari 65 juta meter kubik tahun 1976, menjadi 49 juta meter kubik pada 2004.

Alih Profesi
Pada tahun 2004, ribuan pencari ikan di Rawapening banting pofesi lagi menjadi pencari eceng gondok. Sejumlah warga jadi pengrajin eceng. Satu kilogram eceng gondok yang masih basah dihargai Rp 150.

“Lumayan, satu perahu saya bisa dapat 25 ribu. Daripada harus mencari ikan yang tidak tentu hasilnya. Ikan di sini sudah tidak ada,” ujar Sugiyono nelayan yang alih profesi menjadi pencari eceng gondok.

Pagi-pagi sekali Sugiyono mulai berburu eceng gondok. Biasanya perahunya sudah penuh setelah Asar.
”Hanya eceng gondok muda dan utuh yang diambil. Itu yang menyebabkan eceng gondok makin subur dan merusak ternak ikan di sini,” gerutu Wawan pemilik karamba.

Eceng gondok disetor ke pengrajin. Di tangan pengrajin, eceng gondok kering diolah menjadi sandal, sepatu, dan tas. Sebagian eceng dikirim ke pengrajin besar di Surakarta.

“Sandal, sepatu, dan tas dibuat warga sendiri. Tapi untuk furniture kami hanya menyetor eceng gondok yang sudah dipilin ke pengrajin di Solo,” kata Mutiah pengepul eceng gondok di Rawapening.

Mutiah mempekerjakan 150 pencari eceng gondok. Masing-masing menyetor 100 kilogram eceng gondok basah setiap hari.

Beberapa kali Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah membersihkan eceng gondok di Rawapening. Pemerintah juga menggusur karamba yang terlihat kumuh. Sekarang hanya tersisa sekitar 30 karamba di Rawapening.

“Beberapa kali program pembersihan yang dilakukan pemerintah hanya menyapu eceng gondok tanpa mencabut akarnya. Sehingga pertumbuhan eceng gondok justru semakin pesat. Harusnya ada cara untuk mematikan akar eceng gondok,” ujar Wawan.

Menurut dosen Biologi Undip, Tri Retnaningsih, pembasmian eceng gondok di Rawapening harus menyeluruh. ”Ketika memanen eceng untuk kerajinan, yang diambil hanya batang tegak dan langsung dipotong di danau. Akibatnya limbah mengendap sehingga menambah pendangkalan. Mereka tidak tahu itu.”

Tri Retnaningsih berharap pemerintah mengembangkan metode standar rekonstruksi danau. Pemerintah seharusnya mengajak masyarakat memanfaatkan Rawapening dengan arif, sehingga fungsi ekonomi dan ekologi danau ini tetap terjaga. (*)

Sendang Hilang di Batas Jalan

Ngatman mengais tumpukan arang. Tangan dan mukanya penuh jelaga. Warga Kampung Pucung, Banyumanik, Semarang ini sesekali memandangi para kuli pembangunan jalan tol Semarang-Surakarta.
“Saya dulu tinggal di kampung sana itu. Dulu tahun 1975, kampung saya sering longsor. Saya dan para tetangga disuruh pindah alasannya berbahaya tinggal di tanah yang labil,” kata Ngatman.

Lokasi yang ditunjuk Ngatman tidak jauh dari lokasi jalan tol yang ambles. Menurut Ngatman, dulu di lokasi tersebut rumah-rumah penduduk sering ambruk.

”Itu sebabnya kami dulu disuruh pindah. Lha rumah saja ambruk, kok sekarang dibangun tol,” kata Sumartono tetangga Ngatman.

Jalan tol Semarang-Surakarta melewati lahan hutan milik Perum Perhutani. Hutan pinus seluas 22,1 hektare jadi ”tumbal” awal pembangunan jalan bebas hambatan tersebut.

Sesuai kesepakatan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah seharusnya menyediakan lahan pengganti hutan seluas 44,8 hektare. Dalam surat yang ditujukan kepada Dirjen Bina Marga, 16 Juni 2010, Kepala Perum Perhutani Jateng Heru Siswanto meminta proyek pembangunan jalan tol distop hingga ada kepastian soal lahan pengganti.

”Tak ada penyerahan secara resmi. Kalau ada penyerahan lahan, seharusnya semua dokumen tanah, berita acara penyerahan, peta lokasi, dan lain-lain semuanya ada. Setahu saya belum,” kata pejabat Perhutani yang menolak identitasnya disebutkan.

Selain masalah pembabatan hutan, pembangunan jalan tol mengabaikan prosedur analisis mengenai dampak lingkungan. Diduga ini penyebab amblesnya jalan di titik kilometer 5+500 hingga 5+700.
Menurut Sugiyono, warga Kampung Pucung yang pernah tinggal di lokasi pembangunan jalan tol, di dekat lokasi jalan yang ambles terdapat 3 mata air. Sendang Gede, Sendang Cilik, dan Sendang Keongan.

”Jangan membayangkan bentuk mata airnya bagus, bersih, seperti di tempat wisata mata air. Yang Sendang Keongan itu malah seperti rawa,” kata Sugiyono.

Mata air ini menyebabkan tanah di sekitarnya tidak stabil. “Rumah jadi miring-miring seperti kena gempa. Tiap kali miring, kita bangun, miring lagi, bangun lagi begitu seterusnya sampai menghabiskan uang.”

Berbeda dengan Sugiyono, peneliti hidrologi Universitas Diponegoro, Robert J Kodoatie mengatakan, tidak terdapat mata air tepat di lokasi jalan yang ambles. Terdapat genangan akibat endapan air yang tidak terserap tanah.
“Menggenang di dalam kemudian muncul di beberapa titik di permukaan. Itu yang membuat tanah disekitarnya rapuh dan rentan ambrol,” ujar Robert.

Lokasi mata air yang dimaksud Sugiyono, berada di sekitar titik 5+500 hingga 5+700 namun tidak tepat di lokasi jalan yang ambles. Robert Kodhoatie mengaku pernah memperingatkan Dinas Bina Marga soal kemungkinan tanah ambles tersebut.

“Dalam peta geologi, lokasi itu termasuk daerah merah atau rawan longsor. Ketika saya beri masukan mereka bilang sudah sesuai. Masukan saya sebagai pakar hidrologi tidak digubris,” kata Robert.

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa rute jalan tol rencananya tidak melewati lokasi sekarang. Selain menghindari kawasan hutan Perhutani, juga untuk menghindari bahaya longsor.

Namun, jika sesuai rencana awal rute, jalan tol akan menggusur perumahan milik pejabat Pemprov Jawa Tengah. Pembangunan jalan tol dipaksakan melewati jalur yang tidak aman dan merusak mata air.
Sugiyono membenarkan ada perubahan rencana pembangunan jalan. Tanah yang sekarang digunakan lebih banyak tanah milik Perhutani. Padahal semula yang diukur dan dipasangi patok adalah tanah milik warga.
“Tidak tahu kenapa kok pindah pakai tanah Perhutani. Titik yang ambles itu sebenarnya mata air, namanya Sendang Keongan. Namun karena tidak pernah dirawat lama-lama mampet. Mungkin itu sebabnya dianggap aman sehingga (jalan tol) tidak jadi pakai tanah warga,” kata Sugiyono.

Sebelum memulai pembangunan, warga sering diajak rapat sosialisasi. Rapat hanya membahas masalah kompensasi dan tidak pernah menyinggung rencana mengalihkan pembangunan jalan.

“Rumah Pak Jumari, Narmin, dan Pak Gito yang seharusnya kena proyek awal telah diukur dan diuji tanahnya. Bahkan sudah mendapat ganti rugi.”

Sugiyono mengingat, selama pembangunan lokasi yang rawan sudah berkali-kali longsor. “Kalau nggak salah 5 kali dengan sebelum dibeton. Saat diuruk sudah ambrol dan retak.”

Anggota tim Komisi Penilaian Amdal Provinsi Jateng, Dwi P Sasongko mengatakan, proyek jalan tol Semarang-Surakarta yang dilaksanakan PT Virama Karya Jakarta sudah mendapat Keputusan Kelayakan dari Gubernur Jawa Tengah.

Tapi dokumen amdal ternyata tidak mencantumkan potensi tanah ambles. Dia menyebutkan adanya kelemahan metodologi dalam dokumen amdal tersebut.
Misalnya, tidak ada paparan peta kondisi geologi, geohidrologi, dan kerentanan tanah di tapak proyek. Tidak ada uraian struktur geologi yang terkait dengan jenis tanah atau batuan sehingga tidak ada analisis mengenai kestabilan lereng.
“Tidak ada peta hidrogeologi sehingga tidak diketahui peta aliran air tanah. Dan yang utama tidak ada kajian alternatif rute jalan tol sebagai bagian dari studi kelayakan ekologis,” ujar Dwi Sasongko.

Menurut peneliti hidrologi Universitas Diponegoro, Robert J Kodoatie, solusi menanam tiang pancang tidak akan menyelesaikan masalah tanah yang ambles.

“Dikeruk, diberi pilar, itu semua tidak akan efektif. Pilar sama bahayanya karena sewaktu-waktu bisa runtuh. Di musim hujan, air yang menggenang semakin banyak dan menggerus tanah. Lebih baik cari lokasi lain.”
Sendang Cilik kini berada persis di sisi tol. Pelaksana proyek membangun saluran di bawah jalan agar aliran air tidak luber ke jalan.

Tak jauh dari situ, Sendang Gede aman terlindung rimbunan pohon. Airnya tak sejernih dulu. Segar untuk membasuh muka. (*)