Tebing itu telah meranggas, amuk merapi telah menghancurkan pohon dan meluluhlantakkan semua yang ada di Cangkringan Jogjakarta. Masih terasa, meski Merapi telah berhenti menyemburkan asap dan api lebih dari enam bulan lalu.
Dua perempuan yang tidak bisa dikatakan muda masih berada disana. Hampir dua jam tidak ada pembeli yang melirik dagangannya. Permen, air mineral, tisu dan beberapa biskuit dalam keranjang menjadi modalnya mengais kembali mimpinya.
“Rumah saya sudah hancur. Saya numpang disaudara. Semua anak tinggal di kota, malu numpang mereka. Hidup mereka juga tak kalah susah dengan saya,jadi saya berjualan untuk mengumpulkan uang agar bisa membangun kembali rumah kami,” tutur perempuan itu sambil membetulkan rambut putihnya yang tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya.
Mengumpulkan uang untuk membangun rumah, hmm sebuah cita-cita yang mulia. Tapi butuh berapa puluh tahun untuk mengumpulkannya. Dagangannya juga tidak seberapa, apalagi pembelinya..hanya ada dua tiga orang yang melintas dijalan ini, jalan raya cangkringan yang menuju kampung mbah Marijan. Dari mereka yang melintaspun tidak semua berhenti dan membeli dagangannya.
“Keuntungannya nggak pasti kok mbak…paling ya lima ribu sampai sepuluh ribu tapi Alhamdulillah harus disyukuri masih bisa sehat dan bisa cari duit sendiri hingga saat ini.”
Aku malu, perempuan itu masih bisa bersyukur dalam keterbatasan materi.Keyakinan untuk bisa meraih mimpi seakan menjadi bukti jika amuk Merapi tidak menghancurkan imannya untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar