Entri Populer

Minggu, 22 Mei 2011

Sendang Hilang di Batas Jalan

Ngatman mengais tumpukan arang. Tangan dan mukanya penuh jelaga. Warga Kampung Pucung, Banyumanik, Semarang ini sesekali memandangi para kuli pembangunan jalan tol Semarang-Surakarta.
“Saya dulu tinggal di kampung sana itu. Dulu tahun 1975, kampung saya sering longsor. Saya dan para tetangga disuruh pindah alasannya berbahaya tinggal di tanah yang labil,” kata Ngatman.

Lokasi yang ditunjuk Ngatman tidak jauh dari lokasi jalan tol yang ambles. Menurut Ngatman, dulu di lokasi tersebut rumah-rumah penduduk sering ambruk.

”Itu sebabnya kami dulu disuruh pindah. Lha rumah saja ambruk, kok sekarang dibangun tol,” kata Sumartono tetangga Ngatman.

Jalan tol Semarang-Surakarta melewati lahan hutan milik Perum Perhutani. Hutan pinus seluas 22,1 hektare jadi ”tumbal” awal pembangunan jalan bebas hambatan tersebut.

Sesuai kesepakatan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah seharusnya menyediakan lahan pengganti hutan seluas 44,8 hektare. Dalam surat yang ditujukan kepada Dirjen Bina Marga, 16 Juni 2010, Kepala Perum Perhutani Jateng Heru Siswanto meminta proyek pembangunan jalan tol distop hingga ada kepastian soal lahan pengganti.

”Tak ada penyerahan secara resmi. Kalau ada penyerahan lahan, seharusnya semua dokumen tanah, berita acara penyerahan, peta lokasi, dan lain-lain semuanya ada. Setahu saya belum,” kata pejabat Perhutani yang menolak identitasnya disebutkan.

Selain masalah pembabatan hutan, pembangunan jalan tol mengabaikan prosedur analisis mengenai dampak lingkungan. Diduga ini penyebab amblesnya jalan di titik kilometer 5+500 hingga 5+700.
Menurut Sugiyono, warga Kampung Pucung yang pernah tinggal di lokasi pembangunan jalan tol, di dekat lokasi jalan yang ambles terdapat 3 mata air. Sendang Gede, Sendang Cilik, dan Sendang Keongan.

”Jangan membayangkan bentuk mata airnya bagus, bersih, seperti di tempat wisata mata air. Yang Sendang Keongan itu malah seperti rawa,” kata Sugiyono.

Mata air ini menyebabkan tanah di sekitarnya tidak stabil. “Rumah jadi miring-miring seperti kena gempa. Tiap kali miring, kita bangun, miring lagi, bangun lagi begitu seterusnya sampai menghabiskan uang.”

Berbeda dengan Sugiyono, peneliti hidrologi Universitas Diponegoro, Robert J Kodoatie mengatakan, tidak terdapat mata air tepat di lokasi jalan yang ambles. Terdapat genangan akibat endapan air yang tidak terserap tanah.
“Menggenang di dalam kemudian muncul di beberapa titik di permukaan. Itu yang membuat tanah disekitarnya rapuh dan rentan ambrol,” ujar Robert.

Lokasi mata air yang dimaksud Sugiyono, berada di sekitar titik 5+500 hingga 5+700 namun tidak tepat di lokasi jalan yang ambles. Robert Kodhoatie mengaku pernah memperingatkan Dinas Bina Marga soal kemungkinan tanah ambles tersebut.

“Dalam peta geologi, lokasi itu termasuk daerah merah atau rawan longsor. Ketika saya beri masukan mereka bilang sudah sesuai. Masukan saya sebagai pakar hidrologi tidak digubris,” kata Robert.

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa rute jalan tol rencananya tidak melewati lokasi sekarang. Selain menghindari kawasan hutan Perhutani, juga untuk menghindari bahaya longsor.

Namun, jika sesuai rencana awal rute, jalan tol akan menggusur perumahan milik pejabat Pemprov Jawa Tengah. Pembangunan jalan tol dipaksakan melewati jalur yang tidak aman dan merusak mata air.
Sugiyono membenarkan ada perubahan rencana pembangunan jalan. Tanah yang sekarang digunakan lebih banyak tanah milik Perhutani. Padahal semula yang diukur dan dipasangi patok adalah tanah milik warga.
“Tidak tahu kenapa kok pindah pakai tanah Perhutani. Titik yang ambles itu sebenarnya mata air, namanya Sendang Keongan. Namun karena tidak pernah dirawat lama-lama mampet. Mungkin itu sebabnya dianggap aman sehingga (jalan tol) tidak jadi pakai tanah warga,” kata Sugiyono.

Sebelum memulai pembangunan, warga sering diajak rapat sosialisasi. Rapat hanya membahas masalah kompensasi dan tidak pernah menyinggung rencana mengalihkan pembangunan jalan.

“Rumah Pak Jumari, Narmin, dan Pak Gito yang seharusnya kena proyek awal telah diukur dan diuji tanahnya. Bahkan sudah mendapat ganti rugi.”

Sugiyono mengingat, selama pembangunan lokasi yang rawan sudah berkali-kali longsor. “Kalau nggak salah 5 kali dengan sebelum dibeton. Saat diuruk sudah ambrol dan retak.”

Anggota tim Komisi Penilaian Amdal Provinsi Jateng, Dwi P Sasongko mengatakan, proyek jalan tol Semarang-Surakarta yang dilaksanakan PT Virama Karya Jakarta sudah mendapat Keputusan Kelayakan dari Gubernur Jawa Tengah.

Tapi dokumen amdal ternyata tidak mencantumkan potensi tanah ambles. Dia menyebutkan adanya kelemahan metodologi dalam dokumen amdal tersebut.
Misalnya, tidak ada paparan peta kondisi geologi, geohidrologi, dan kerentanan tanah di tapak proyek. Tidak ada uraian struktur geologi yang terkait dengan jenis tanah atau batuan sehingga tidak ada analisis mengenai kestabilan lereng.
“Tidak ada peta hidrogeologi sehingga tidak diketahui peta aliran air tanah. Dan yang utama tidak ada kajian alternatif rute jalan tol sebagai bagian dari studi kelayakan ekologis,” ujar Dwi Sasongko.

Menurut peneliti hidrologi Universitas Diponegoro, Robert J Kodoatie, solusi menanam tiang pancang tidak akan menyelesaikan masalah tanah yang ambles.

“Dikeruk, diberi pilar, itu semua tidak akan efektif. Pilar sama bahayanya karena sewaktu-waktu bisa runtuh. Di musim hujan, air yang menggenang semakin banyak dan menggerus tanah. Lebih baik cari lokasi lain.”
Sendang Cilik kini berada persis di sisi tol. Pelaksana proyek membangun saluran di bawah jalan agar aliran air tidak luber ke jalan.

Tak jauh dari situ, Sendang Gede aman terlindung rimbunan pohon. Airnya tak sejernih dulu. Segar untuk membasuh muka. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar