Anak kecil (2 th ) berwajah murung terlihat menunggui seorang perempuan muda yang tengah sibuk menjahit baju pesta, disebuah teras yang tertutup rapat. Sementara seorang anak laki-laki berusia sekitar limabelas tahun dengan kaki yang diseret mencoba berjalan menuju pagar yang juga tertutup rapat. Dibalik lubang pagar yang berukuran 10 cm Agustinus seorang remaja berusia lima belas tahun , kegirangan melihat kereta kelinci yang melintas. Meskipun hanya gumaman yang terdengar namun dalam senyum lebarnya terlihat dia sangat puas.
”Agustinus dulu sama sekali tidak bisa jalan, dia juga bisu, setelah lebih dari tiga tahun berada disini dia mulai bisa berjalan meski masih diseret,” terang Esther perempuan yang sibuk menjahit itu.
Esther Eka adalah seorang pendamping di rumah penampungan ’School Of Life’ .Dari 26 tahun usianya saat ini, 4 tahun waktunya dihabiskan di School Of Life.
”Saya terpanggil untuk bergabung, setelah beberapa kali bertemu cik Priska pendiri penampungan ini. Beruntung keluarga saya mendukung meskipun dengan bergabung disini saya jadi jarang pulang,” tutur dua bersaudara yang tinggal dipinggiran kota Semarang.
Di bangunan seluas sekitar 300 meter persegi itu, lebih 80 orang dari segala usia dengan segala keterbatasan tinggal di penampungan yang berdiri sejak tahun 2005 sebagian besar dari mereka adalah yang dibuang keluarganya karena keterbatasan yang dialami.
Dari luar memang tak terlihat sesuatu yang istimewa dari rumah bercat putih yang selalu tertutup rapat di Jl. Bintoro Raya no.13 Semarang itu. Pagarnya selalu terkunci dan tertutup dengan fiber. Satu-satunya hiasan hanya plang besar bertuliskan The School Of Life yang terpasang ditembok depan.
Disitu puluhan orang cacat baik fisik maupun mental tinggal, seorang wanita buta bernama Priskilla Smith Jully yang akrab disapa Priska mencurahkan segenap cinta, kasih sayang serta perhatiannya pada puluhan orang yang telah terbuang dari keluarga mereka.
”Hanya sedikit yang memang dititipkan orang tuanya kesini, tapi prioritas School Of Life adalah menampung mereka yang memang dibuang keluarganya, termasuk Benyamin ini,” Esther menunjuk anak kecil berwajah murung didepannya. Benyamin menunduk dan kembali asyik dalam lamunannya. Menurut Esther, Benyamin ditinggal kabur ibunya di rumah seorang bidan yang tidak jauh dari penampungan setelah dua hari dilahirkan.
Saat ini Benyamin hanya mampu memanggil mami, untuk Priskilla yang dianggap orang tuanya.
”Sebentar lagi mami pulang, Nyamin mandi dulu ya?” Esther menggendong Benyamin. Didalam rumah sebagian penghuni dengan rambut yang basah duduk dan bercakap-cakap. Didapur seorang anak tuna netra tampak sibuk mengaduk nasi untuk makan malam mereka. Beberapa penghuni yang yang dianggap mampu, setiap hari mendapat giliran memasak dan menyajikannya. Hari ini giliran Maria (30) yang menyiapkan nasi untuk semua penghuni.
Suasana nampak gaduh ketika salah satu penghuni seorang perempuan berusia 25 tahun dengan mengenakan kaos merah dan celana panjang hitam mulai berteriak meminta seluruh penghuni masuk diruang persembayangan. Dia adalah salah satu penghuni yang secara fisik tidak mengalami kecacatan.
Sudah menjadi kebiasaan disana, menjelang petang semua harus berkumpul untuk berdoa. Ruang yang dilapisi peredam suara berwarna biru itu memang menjadi tempat mereka melakukan doa bersama sebelum makan malam dimulai.
Belum semua beranjak menuju ruang persembahyangan ketika seorang perempuan tuna netra muncul dari balik pagar. Kedatangannya disambut teriakan histeris penghuni rumah. Mereka beramai-ramai mencium tangan perempuan yang tak lain adalah Priskilla Smith Jully.
”Mami...” Benyamin muncul dan langsung memeluk Priska. Priska meraih tangan Benyamin dan meletakkannya dipipi.
”Ayo sayang pegang pipi mami..Nyamin sudah mandi?” Benyamin tidak menjawab, hanya memandang Priska.
bangkit
Bagi Priska semua penghuni School Of Life adalah keluarga yang dari tahun ke tahun semakin bertambah.
Masa lalunya yang kelam membuat Priska yang mengalami cacat sejak lahir memiliki keberanian membuat penampungan bagi kaum diffabel yang terbuang.
”Sejak dalam kandungan saya tidak diinginkan. Dan entah apa yang dilakukan mami sehingga ketika lahir saya menjadi buta. Tidak cukup sampai disitu, karena cacat yang saya miliki, mami menganggap kehadiran saya tidak berguna”, kenang putri dari Bujung dan Tjien Ngo itu.
Priska yang lahir 8 Mei 1978 ini berasal dari Jambi. Dia adalah anak kedua dari lima bersaudara.
Priska mengakui tekanan yang dialami kerena penolakan orang tuanya dan kecacatannya membuat dia sempat frustasi. Diusia remaja beberapa kali dia mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi di pergelangan tangan kirinya. Beruntung nyawanya selalu bisa terselamatkan.
”Ditengah keputus asaan yang memuncak di sekitar bulan Oktober 1992 seorang kawan mengajak ke gereja untuk berdoa, disitu saya sadar kasih Tuhan selalu ada untuk umat-Nya,” ujar ibu dua putra ini.
Sejak saat itu Priska menjadi aktivis gereja di Jambi. Kepercayaan dirinya meningkat sehingga di tahun 2004 Priska memutuskan untuk merantau ke Jawa tepatnya di Ungaran Kabupaten Semarang Jawa Tengah.
”Saya mengikuti pendidikan karakter di The School Acts. Disitu saya bertemu dengan Tommy Barnett seorang warga Amerika yang memiliki penampungan untuk orang terbuang bernama Dream Center di Amerika. Entahlah, begitu mendengar kisah tentang penampungan itu saya langsung bertekad untuk membuat penampungan yang sama di Semarang ini. Keinginan itu seperti mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata karena saya orang miskin yang tidak memiliki apa-apa,” papar Priska.
Diusir
Genap setahun Priska berangan-angan, seorang teman dari Jambi yang lumpuh mengabarkan dirinya telah sebatang kara karena ibu yang selama ini menghidupinya meninggal.
Berbekal tabungan yang ada Priska yang kala itu sudah menjadi penyiar di radio rohani Rhema menjemputnya dan mulai menampung perempuan bernama Rhemmy. Priska juga mengajak seorang teman yang memiliki kekurangan pada pendengarannya untuk tinggal bersama. Meski sudah membayar uang kos lebih banyak dari teman kos yang lain, pemilik rumah di kawasan Sampangan ini tetap tidak mengijinkan Priska menampung temannya.
”Ibu kos mengatakan mereka orang-orang aneh dan meminta saya mencari tempat kos baru. Sedih rasanya. Namun karena niat baik, oleh Gereja Jemaat Kristen kami mendapat pinjaman sebuah rumah dikawasan permata hijau Semarang. Tidak lama memang hanya dua tahun tapi itu bisa mengulur waktu untuk saya mencari uang dan mendapatkan tempat baru untuk keluarga ’aneh’ kami yang jumlahnya meningkat menjadi delapan orang,” terangnya.
Menurut Priska ikatan batinlah yang mempertemukan dia dengan para asuhannya. Dari yang dijemput atas informasi teman atau mereka yang datang sendiri kepadanya semua ditampung, dengan catatan mereka memiliki gangguan fisik maupun mental dan terbuang.
Bak seorang ibu, Priska berjuang sendirian menghidupi anak asuhnya, selain menjadi penyiar, dan penyanyi, Priskapun rela bekerja sebagai pengupas bawang disebuah restoran cina di kawasan Tanah Mas Semarang.
”Saya senang menjalani ini semua. Hingga tak terasa setelah beberapa kali kami pindah Dari Muktiharjo, Permata Hijau hingga Selomas kami menemukan lokasi yang paling nyaman yakni di Bintoro Raya 13 ini. Disini keluarga kami semakin banyak, dari lintas usia, lintas agama, lintas suku hingga lintas karakter.”
Keterbatasan ruangan menyebabkan penampungan ini hanya memiliki dua kamar, satu untuk perempuan dan satu lagi untuk laki-laki.
”Susahnya jika salah satu sakit dipastikan yang lain juga akan tertular. Misalnya flu atau diare yang gampang menular. Saya sering membawa mereka secara rombongan untuk berobat dengan mobil sewaan,” urai Priska yang menambahkan status rumah ini juga masih kontrak.
Disinggung masalah tempat penampungan yang terkesan mengisolir diri dari pergaulan masyarakat kampung, Esther yang mendampingi Priska bercerita bahwa apapun bisa terjadi secara tiba-tiba. Teriakan, tangisan hingga nyanyian yang tidak habis-habis bisa saja terdengar, itulah yang menyebabkan seluruh penampungan dibuat tinggi dan ditutup dengan fiber.
”Peredam suara seperti dalam studio siaran kita pasang diseluruh ruangan. Kami tidak ingin kegaduhan disini mengganggu warga sekitar. Apalagi doa kami diruang persembahyangan bisa sangat keras,” tutur Esther.
Selain doa bersama dengan cara menyanyikan pujian terhadap Tuhan, School Of Life juga mengenalkan huruf braille kepada mereka yang tuna netra. Khusus untuk huruf braille Priska sendiri yang mengajarkannya. Selain itu tiga bahasa juga dikenalkan yakni bahasa Inggris, Mandarin dan Jepang.
”Suami cik Priska yakni Koh Fendi yang menjadi mentor untuk bahasa,” terang Esther. Priska dan Fandi Kusuma menikah Desember 2006 lalu. Dengan kondisi materi yang berbeda karena Fandi yang bekerja sebagai direktur sebuah industri yang juga anak dari keluarga berkecukupan membuat Priska sempat menolak Fandi. Apalagi awal mulanya kedua orang tua Fandi tidak setuju dengan hubungan mereka.
”Karena bimbingan-Nyalah semua menjadi mudah. Tidak lama orang tua merestui dan kami menikah. Hubungan saya dengan orang tua kandung juga semakin baik.” Mereka berdua bahu membahu menghidupi School Of Life dan kedua anak mereka Dika Aldiro (3 th) dan Holi Covenant (6 bulan).
Kesibukan Priska membanting tulang untuk anak asuhnya tidak membuat keluarga kecilnya protes bahkan Fendi yang bertugas menjadi mentor bahasa akhirnya memutuskan keluar dari kerjaannya sebagai direktur dan total membantu priska.
”Banyak orang menyayangkan dan menertawakan keputusan ini. Tapi tampaknya koh Fendy sudah mendapat panggilan untuk mengabdi. Masalah penghasilan yang berkurang saya yakin jika Tuhan sudah memulai Dia akan memimpin hingga selesai,” kata Priska
Dengan bantuan Fandi yang cukup berpengalaman dalam mengatur perusahaan membuat Priska menjadi lebih mudah dalam mendapatkan penghasilan untuk menghidupi School Of Life. Event organizer yang dibentuk Fandi untuk membantu menghidupi School Of Life tak pernah sepi dari order. Sekali order EO yang bernama Life Entertaiment ini mematok harga antara 1 hingga 2 juta setiap kali mereka mengisi acara hajatan.
Jual Kripik
Dengan 80 orang yang saat ini ditampung, setiap bulan sedikitnya Priska harus mampu mendapatkan uang lebih dari Rp.50 juta. Siaran yang menyita waktu dengan honor yang kurang untuk menghidupi puluhan orang itu membuat Priska menghentikan cita-citanya sebagai penyiar.
Priska memilih menjual berbagai makanan mulai dari keripik pisang hingga balado teri dari pintu ke pintu. Untuk sementara berbagai keripik dan balado diambil dari temannya yang pembuat keripik. Priska hanya mendapat keuntungan dari penjualan saja.
”Dalam sehari keuntungan yang didapat antara lima ratus ribu hingga satu juta. Karena bukan hanya keripik. Saya menjual apapun yang bisa saya jual. Namun pernah berhari-hari keuntungan saya tak lebih dari Rp.50 ribu. Sehingga kalau dihitung pemasukan sebulan sangat kurang. Belum ada donatur tetap ditempat kami. Dan kami juga tidak pernah mengirimkan proposal bantuan kemanapun meski banyak yang menyarankan. Entahlah tidak sampai hati rasanya jika harus mengatasnamakan mereka untuk mengemis mencari uang. Selama tangan ini mampu saya akan terus berusaha untuk menutup semua kebutuhan, Tapi banyak juga orang yang bermurah hati memberi bantuan” ujarnya.
Priska mencontohkan pembayaran rumah yang ditempati saat ini berasal dari sesorang yang tidak dikenalnya.
Selain itu suaranya yang merdu sebagai penyanyi masih laku di berbagai hajatan yang menambah pundi-pundi uang untuk menghidupi asuhannya.
Berbagi untuk Memulihkan
Hari sudah menjelang sore. Saat seluruh keluarga School of Life berebutan memasuki ruang sembahyang. Ruangan seluas 6 x 5 meter itu mendadak gaduh. Jangan membayangkan sembahyang mereka berlangsung hening. Justru dentuman drum, lolongan gitar listrik, yang dirangkai keyboard, adalah sembahyangnya kaum diffabel ini.
”Ra...ra ... ra ...ra...,” seorang mentor yang membimbing mereka mengalunkan lagunya.
”Yare....yare...,” dan peserta pun menyambutnya seakan mengamini doa itu.
Usai berdoa, keluarga besar ini berkumpul di ruang serbaguna yang luasnya 5 x 10 m. Di dinding yang dipenuhi slogan-slogan kemandirian ini, mereka hendak makan malam.
”Yang bertugas membagi makanan siapa Si?” seorang perempuan yang matanya rabun dan tidak bisa melihat jelas bertanya pada kawannya.
”Kakkk....ka....kayakk....kayaknya.... om...om....om......om Tan,” jawab Getsy, gadis Gorontalo berusia 28 tahun yang menderita autis sambil mengaduk teh hangat untuk disajikan ke seluruh anggota keluarga.
Getsy lalu mendekati om Tan.
”Om....tetet....tett...telurku nanti....ssses...separuh aja ya.....Yang sess....separuh buat...mamm....mama priska,” kataGetsy.
Om Tan yang pemarah dan pengomel hanya memandang tajam Getsy. Menurut Esther, Om Tan adalah seorang pengusaha yang jatuh bangkrut setelah ditipu rekannya. Ia menjadi pemurung, pemarah, dan dimanapun selalu mengomel.
”Dia dianggap gila. Padahal hanya depresi saja. Nyatanya setelah setahun menjadi keluarga kami, ia mulai bisa mengendalikan diri,” kata Esther.
Makan malam keluarga hari itu sangat sederhana. Sepiring nasi dengan lauk mie goreng dan telur dadar saja. Namun dibalik kesederhanaan itu, ada semangat memulihkan anggota keluarga yang lain. Pesan Getsy kepada Om Tan untuk sekedar berbagi telur dadar menyiratkan harapan keluarga ’aneh’ itu.
”Kami meyakini restored to restore. Dipulihkan untuk memulihkan. Nyatanya banyak mereka yang menjadi mandiri usai menjalani sebagai keluarga disini,” kata Priska yang mencontohkan seorang alumni School Of Life yang memiliki ganngguan mental berhasil menjadi pedagang setelah keluar dan diberi modal usaha.
”Mereka yang akan lulus, kita tanya apa yang diinginkan, sebisa mungkin kami mencarikan jalan keluar agar mereka mampu mandiri,” ujar Priska menutup obrolan.
Hari sudah gelap. Seluruh anggota keluarga bersiap belajar dan tidur. Karena malamnya mereka masih punya acara kebaktian yang biasa disebut konser.
Lalu lalang orang dan anak-anak di jalan Bintoro Raya Semarang masih ramai. Namun di dalam bangunan bernomor 13, kehidupan seakan tengah mengambil jeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar