Huhu menantang matahari. Lengan dan tengkuknya berkilat kilat peluh. 37 derajat celcius siang itu.
Meski panas, lelaki berusia 45 tahun itu tetap sibuk menabur pakan ikan dalam karamba. Ratusan ikan nila menyambutnya rakus. Kurang dari sepuluh menit pakan ikan ludes.
Di bangku panjang diluar gubuk terapung, Huhu istirahat. Berteman segelas besar teh tubruk dan angin sepoi-sepoi. “Karamba ini milik kakak ipar saya. Saya yang mengelola,” kata Huhu memulai obrolan
.
Kakak iparnya, Raden Panji adalah salah satu penggerak usaha ternak ikan dalam karamba di Rawapening. Usahanya dimulai tahun 1987 dengan modal dua petak karamba. Huhu ikut memancang bambu petak karamba.
Raden Panji nyaris bangkrut ketika karambanya hanyut disapu badai besar tahun 90-an. Modal usaha yang didapat dari menguras tabungan, raib begitu saja. Huhu frustasi dan memilih hijrah ke Surabaya. Raden Panji kembali membangun karamba yang lebih kokoh.
“Lebih dari dua ratus drum berisi air diikat untuk membuat berat rumah apung Pak Panji. Biaya lebih banyak. Tapi lebih aman dan nyaman,” ujar Huhu.
Belakangan usaha karamba Raden Panji maju pesat. Cuaca dan air di Rawapening cocok untuk memelihara ikan air tawar. Warga di sekitar danau yang saat itu kebanyakan buruh tani dan nelayan tradisional, latah ikut membangun karamba.
Danau seluas 2.670 hektare tersebut pelan-pelan sesak dipadati ratusan karamba milik warga.
Macam-macam ikan konsumsi seperti nila, mujair, dan tawes diternak di Rawapening. Warga juga beternak ikan hias macam black ghost, man fish, dan red devils. Anataomi red devils mirip ikan Lou Han yang dipercaya bisa mendongkrak hoki.
Kala itu uang Rp 10 juta cukup untuk membangun empat petak karamba ukuran 7X7 meter. Warga boleh memilih tempat dimana pun di danau seluas padang tersebut. Tak ada yang menyadari, pembangunan karamba tanpa aturan akan mengancam usaha ternak ikan dikemudian hari.
Sisa makanan ikan menyuburkan eceng gondok. Koloni eceng gondok mengikat gambut dan membentuk pulau-pulau terapung.
Gerombolan eceng gondok yang terbawa angin merusak jaring dan menghacurkan karamba. Ketika malam, aroma busuk akar eceng gondok menguar dan menyebabkan ikan-ikan mati kehabisan oksigen.
”Ribuan ikan dalam karamba mati karena bau eceng gondok tersebut. Hanya sedikit warga yang bertahan tetap menjadi nelayan ataupun membudidayakan ikan dalam karamba,” kata Huhu.
Raden Panji termasuk pengusaha karamba yang minggir karena eceng. Gondok menghindari bau eceng, Raden Panji memboyong keluarganya ke Solo. ”Saya yang mendapat mandat mengurus karambanya di sini bersama Pak lurah,” ujar Huhu.
Tri Retnaningsih Soeprobowati, dosen Biologi Universitas Diponegoro Semarang mengatakan, kandungan nutrien yang kaya fosfor dan nitrogen menyuburkan gulma air di Rawapening. Nutrien tersebut berasal dari sisa pakan ikan, pupuk perkebunan disekitar danau dan limbah rumah tangga.
”Hampir seluruh danau mengandung fosfor dan nitrogen sehingga populasi enceng gondok tak terkendali. Ini juga menyebabkan pendangkalan,” ujar Tri Retnaningsih.
Pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali menyebabkan daya tampung air Rawapening berkurang. Eceng gondok saat ini menutup 82 persen permukaan danau.
Daya tampung Rawapening menyusut dari 65 juta meter kubik tahun 1976, menjadi 49 juta meter kubik pada 2004.
Alih Profesi
Pada tahun 2004, ribuan pencari ikan di Rawapening banting pofesi lagi menjadi pencari eceng gondok. Sejumlah warga jadi pengrajin eceng. Satu kilogram eceng gondok yang masih basah dihargai Rp 150.
“Lumayan, satu perahu saya bisa dapat 25 ribu. Daripada harus mencari ikan yang tidak tentu hasilnya. Ikan di sini sudah tidak ada,” ujar Sugiyono nelayan yang alih profesi menjadi pencari eceng gondok.
Pagi-pagi sekali Sugiyono mulai berburu eceng gondok. Biasanya perahunya sudah penuh setelah Asar.
”Hanya eceng gondok muda dan utuh yang diambil. Itu yang menyebabkan eceng gondok makin subur dan merusak ternak ikan di sini,” gerutu Wawan pemilik karamba.
Eceng gondok disetor ke pengrajin. Di tangan pengrajin, eceng gondok kering diolah menjadi sandal, sepatu, dan tas. Sebagian eceng dikirim ke pengrajin besar di Surakarta.
“Sandal, sepatu, dan tas dibuat warga sendiri. Tapi untuk furniture kami hanya menyetor eceng gondok yang sudah dipilin ke pengrajin di Solo,” kata Mutiah pengepul eceng gondok di Rawapening.
Mutiah mempekerjakan 150 pencari eceng gondok. Masing-masing menyetor 100 kilogram eceng gondok basah setiap hari.
Beberapa kali Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah membersihkan eceng gondok di Rawapening. Pemerintah juga menggusur karamba yang terlihat kumuh. Sekarang hanya tersisa sekitar 30 karamba di Rawapening.
“Beberapa kali program pembersihan yang dilakukan pemerintah hanya menyapu eceng gondok tanpa mencabut akarnya. Sehingga pertumbuhan eceng gondok justru semakin pesat. Harusnya ada cara untuk mematikan akar eceng gondok,” ujar Wawan.
Menurut dosen Biologi Undip, Tri Retnaningsih, pembasmian eceng gondok di Rawapening harus menyeluruh. ”Ketika memanen eceng untuk kerajinan, yang diambil hanya batang tegak dan langsung dipotong di danau. Akibatnya limbah mengendap sehingga menambah pendangkalan. Mereka tidak tahu itu.”
Tri Retnaningsih berharap pemerintah mengembangkan metode standar rekonstruksi danau. Pemerintah seharusnya mengajak masyarakat memanfaatkan Rawapening dengan arif, sehingga fungsi ekonomi dan ekologi danau ini tetap terjaga. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar